Minggu, 21 Mei 2017

Menyingkap Tabir dan Berpacu dengan Takdir Semesta

Manusia makhluk ciptaan yang bersifat elastis, sebagian mampu menyimpan juga memecahkan sendiri dan sebagian sama mampu menyimpan tetapi pemecahan melalui jalur diplomatik, keterbukaan, nasehat, kritik dan saran melalui pembicaraan dengan teman akrab ataupun pasangan jadi jurus ampuh sebagai perbandingan dari problematika panggung sandiwara yang tak ada habisnya.
Menyingkap tabir seakan membuka semua cerita tentang perjalanan panjang seseorang demi tercapainya suatu Goal Life Humanist, sebelum lebih jauh bukan perkara mudah menyingkap tabir apalagi perumusan masalah kehidupan dari berbagai sektor. Berperang dengan diri sendiri itu pasti, karena yang di angkat ke permukaan mengenai jalan diri sendiri terlalu tabu dipecahkan, terlebih membuka dengan teman atau pasangan, walaupun kepercayaan penuh di berikan, tetap saja memulai Open Talk berarti mengungkapkan Life Humanist Problem terekspose secara gamblang. Kalaupun mencoba memecahkan mencari solusi sendirian butuh waktu terlalu lama, karena sudah ditasbihkan otak manusia tak mampu bekerja 24 jam non-stop dan ketika activities dimulai pun akan muncul permasalahan baru yang berbeda dari masalah asal, paksakan saja pecahkan sendiri, jaminan masalah tak selesai dan masalah baru muncul, jika pun ada hanya segelintir orang mampu menyediakan perumuskan masalah, Handling Problem, Planner Back Up dan segala eksponen pendukung permasalahan dapat dikatakan bisa diselesaikan sendirian.
Untuk itu hal yang paling manusiawi dan dapat diterima secara Universal untuk Problem Solving terpecahkan membuthkan parthner atau teman yang mampu memberi solusi biarpun mengkritik pedas tak akan jadi masalah, mengingat Output akhirnya Handling Problem Solving secara bagus tatanan sistematika Handling juga Planner Handling tersturktural rapi demi kelancaran processing Handling. Walaupun secara statistik surplus tidak menjanjikan dan pasti tapi setidaknya estetika Problem Handling Solving lebih terstruktural daripada Personal Problem Solving, keuntungan mutlak Open Talk Problem Handling Solving lebih bisa di perjuangkan oleh karena prepare sudah jelas dan masukan idea, kritik juga saran yang beragam dari berbagai pihak jadi kartu truf untuk jadi timbangan next step pemecahan suatu masalah, tinggal personal memilah step by step yang dipersiapkan apa saja dan back up plan, berkaca dari statistik survey dunia Universal Open Talk Problem hampir semua masalah dapat terselesaikan secara baik dan tanpa permasalahan lebih lanjut.
Personal pun tidak juga harus meyakini data survey statistik dunia tersebut, karena tipikal Personal berbeda-beda, dalam implementasinya pun Personal hasil Universal Open Talk Problem tidak selalu sejalan lurus dengan Plan Handling Problem, kembali ke sifat Humanist per-orang yang berbeda. Hal ini pun dapat di atasi, misalkan ambil 2 contoh Humanist Head Stone & Humanist Cooling Down dalam Handling Problem. Humanist Head Stone dipertengahan penyelesaian masalah cenderung melenceng dari Plan awal yang sdh terstuktur, Handling nya paling aman didampingi seseorang yang ber tipe Humanist Cooling Down sebagai penengah dan penyambung kembali topic bahasan apabila orang tipe Humanist Head Stone mulai melenceng atau terpancing emosi, permasalahan yang timbul kembali apabila dalam kasus ini Humanist Cooling Down ikut menemani haruslah seseorang Humanist yang disegani dan mampu berdiplomasi secara lancar, terstrata, dan rangkaian kata2 harus ber tipe Universal untuk mengatasi kesalahpahaman kembali dari kedua belah pihak, terutama Attitude yang harus baik karena apabila Attitude baik otomatis kesan pertama pastilah menimbulkan rasa segan dari kedua belah pihak yang bermasalah, tidak banyak orang yang mampu berbuat seperti ini tetapi dapat di asah, apabila seseorang memiliki tipe Personal Humanist Cooling Down seperti yang di jelaskan di atas implementasi atas dirinya sendiri menimbulkan jiwa Leader, efek domino nya pun berimbas ke pekerjaan, semua perusahaan lebih memilih pelamar yang mempunyai jiwa Leader karena tipe org seperti ini mempunyai pola pemikiran tetap dan masuk akal juga plan cadangan yang sudah tersedia demi menjaga nama perusahaan serta fleksible berkomunikasi dengan karyawan2 lain walaupun berbeda pangkat tetapi tetap menjujung tinggi Attitude ke atasan ataupun ke bawahan sekaligus.
Sedangkan untuk tipe Humanist Cooling Down sama dengan penjelasan diatas, tanpa bantuan orang ketiga pun problematika dapat diselesaikan sendirian sesuai dngan plan awal, hanya ketika ada hal2 yng melenceng dari plan tipe orang seperti ini responsibility mencari jalan keluar sangat cepat dan terstuktur, berbeda jauh dngan tipe Humanist Head Stone yang apabila problematika permasalahan tidak mencapai titik temu nafsu dan amarah yang langsung bermain juga membara, untuk tipe Humanist Cooling Down sendiri jika tidak mencapai titik temu permasalahan nya juga masih perlu dari orang dengan tipe yang sama sebagai penengah ataupun juga pemancing permasalahan akhirnya tekuak semua tanpa kekerasan dan permasalahan yang merugikan kedua belah pihak, walaupun tidak perlu merencanakan back up plan cadangan agar titik temu ditemukan, hanya perlu mengulur waktu dengan cara basa-basi mengalihkan pembicaraan ke topic lain atau memancing sang orang yang kita sebut "Tersangka Pembuat Onar" untuk memulai speak up permasalahan yang terjadi, kronologis, dan tempat serta orang2 yang ada di tempat kejadian, ketika sang Humanist Cooling Down sebagai penengah masalah memulai open talk dengan sang TPO, ketika itu pula sang Humanist Cooling Down yang mempunyai masalah mulai memainkan pemikiran nya mencari pattern plan baru agar menjaga sang TPO telah mengetahui pattern plan sebelumnya yang tidak menemui titik temu, sekaligus menyiapkan plan selanjutnya apabila pattern plan yang baru nantinya kembali tidak mencapai titik temu. Atau juga bila tidak mencapai titik temu permasalahan, Humanist Cooling Down yang mempunyai masalah dan Humanist Cooling Down sebagai penengah dapat bergantian mem back up menyiapkan pattern plan baru, dengan kolaborasi 2 orang yang mempunyai kepala dingin dan cara kerja yang bergantian, secara langsung membingungkan sang TPO, karena pattern yang berbeda dan dalam selang waktu yang lumayan singkat otomatis sang TPO akan kebingungan harus me handle pernyataan dari yang mana terlebih dahulu, kebingungan melanda, lambat laun sang TPO akan membuka pokok inti permasalahan.

Pengalaman dari kisah nyata : TPO - **d*
Team Humanist Handling Problem : I, I, I, I, I
Saksi kepo : B.Z & R.A